Bakat – Investasi Masa Depan

Apakah bakat Anda muncul sejak lahir atau sengaja Anda ciptakan lewat latihan-latihan tertentu? Membincangkan asal-muasal bakat memang menarik dan seolah tak berujung.

Saat lahir, kita memiliki 100 miliar neuron. Tiga bulan atau 60 hari menjelang kelahiran, neuron yang kita miliki itu sudah berkomunikasi satu sama lain. Mereka bahkan membentuk jalinan yang dinamakan dengan axon. Lalu, saat jalinan terbentuk, sebuah sinapsis pun otomatis terbentuk.

Di usia tiga tahun, setiap 100 miliar neuron kita itu telah menciptakan jaringan sinapsis dengan neuron lainnya. Koneksi antarneuron inilah yang menjadi awal mula munculnya bakat. Tandanya, anak terlihat aktif luar biasa.

Ya, tanda tersebut kerap mudah kita cermati pada dua periode usia kita, yaitu ketika kita menginjak usia balita dan saat kita berusia belasan atau duduk di kelas 1 atau 2 SMA. Di masing-masing periode itu, kita (anak) dikenal begitu aktif, bahkan saking aktifnya, tak sadar kita seringkali disebut “nakal” tak keruan.
Lanjut membaca

Setiap orang perlu mengenal bakatnya (talenta)

Jangan memberikan pelajaran menggambar kepada orang yang buta. Maka sehebat-hebatnya kurikulum serta guru yang akan mengajarnya pasti akan sia-sia dan tidak berguna. Jangan mengajarkan seni berpidato kepada orang yang tidak punya lidah. Itupun akan menjadi sia-sia belaka.

Banyak orang di sekitar kita yang tidak mau didiagnosa kesehatannya oleh seorang dokter karena ia takut akan ketahuan berpenyakit. Biarlah saya tidak tahu sakit saya, toh kalau tiba-tiba saya sakit maka saya akan datang juga pada seorang dokter. Bila datangnya tidak terlambat tidak begitu bermasalah. Anehnya sebagian besar kita akan memborong semua obat agar penyakitnya segera cepat sembuh.

Pun demikian terhadap putra-putri kita – bahkan tidak jarang terhadap kita sendiri juga – bahwa kita sibuk mencarikan sekolah anak-anak kita tanpa mengetahui apa sebenarnya yang menjadi bakat anak-anak kita. Nampaknya ibarat sebuah perjalanan yang sangat jauh, kita akan menjadi lebih baik dan lebih tenang bila kita sudah menyiapkan sebuah ”peta kota perjalanan kita”. Demikian juga dengan perjalanan pendidikan yang akan kita pilih dan akan kita lalui untuk meraih prestasi masa depan kita. Nampaknya kita juga memerlukan ”peta potensi diri” yang harus dicarikan warna pendidikan yang sesuai. Tugas kita adalah mengenal bakat, kemudian meyakini dan mengembangkannya yang jelas-jelas sudah diketahui mana yang menonjol.

Mengembangkan bakat yang menonjol akan lebih mudah dari pada mengembangkan bakat yang lemah. Apalagi mengubah bakat alaminya (atau beralih pada hal lain yang bukan menjadi bakatnya). Semakin dekat bakat dengan cita-cita maka semakin mudah untuk meraihnya. Semakin dekat bakat dengan pendidikan yang dipilihnya maka semakin mudah meraih prestasi akademik. Semakin dekat bakat dengan minat maka semakin mudah menikmati hidup ini. (walau ada sebagian kita menyamakan pengertian bakat dengan minat)

REVOLUSI EFISIENSI. Sebagaimana penemuan golongan darah dan lampu listrik pada awal-awalnya. Pun demikian dengan jenis penemuan yang lainnya – termasuk penemuan tes pengenalan bakat DMI – banyak pihak yang masih meragukan kegunaannya. Ternyata pada perkembangan berikutnya baru bisa dirasakan betapa besarnya pengaruh identifikasi golongan darah terhadap pentingnya transfusi darah bagi pasien yang membutuhkannya. Bayangkan bila sampai sekarang penggolongan darah itu belum diakui. Bagaimana nasib si pasien itu? Juga bagaimana dahsyatnya pengaruh penemuan listrik yang kemudian diikuti dengan penemuan lampu pijar, yang kemudian diikuti dengan produk-produk yang lainnya. Apa yang akan terjadi bila tidak ada lampu listrik. Semua akan gelap bukan?

Dan coba anda pikirkan apa yang akan terjadi bila kita dapat mengetahui apa yang menjadi bakat alami kita? Setelah itu kita belajar ilmu pengetahuan dan teknologi yang dekat dengan bakat kita itu. Tentu semuanya akan menjadi lebih fokus, efisien, terlebih bila kita tidak terlambat untuk menjawab dan menyambutnya. Pendek kata kenal bakat sejak dini, itu akan lebih baik dibandingkan bila kita tidak kenal sama sekali.

Oleh: Drs. H. Teguh Sunaryo
Direktur DMI Primagama

Mengenal Bakat (Talenta): Mutiara Tersembunyi

Dalam bilangan waktu yang relatif tidak sedikit, ikhtiar manusia terus menerus dari satu generasi menuju generasi berikutnya selalu mengalami suatu perkembangan. Betapa optimisnya para peneliti kelas dunia untuk menemukan suatu metode yang dapat mengenali bakat seseorang. Dengan segenap semangat dan bekal keilmuannya yang telah teruji dibidangnya mereka selalu mengadakan penelitian yang tidak pernah mengenal putus asa. Mereka sadar bahwa untuk mendapatkan semuanya itu mereka tidak bisa bekerja secara sendirian. Mereka bekerja sama antar ahli di berbagai bidang. Ahli ilmu faal, ahli ilmu psikologi, agamawan dan ahli teknologi komputerisasi. Akhirnya ditemukanlah suatu metode untuk mengenali Bakat / Potensi Otak Kanan dan Otak Kiri serta mengenali Potensi Kecerdasan. Dan metode itu adalah ”DERMATOGLYPIC MULTIPLE INTELLIGENCE” atau metode DMI.

Penemu teori Multiple Intelligence (MI) adalah Bapak Howard Gardner, sedangkan penemu aplikasi MI di dalam kelas pembelajaran adalah Bapak Thomas Armstrong. Dan pengembang / penelusuran bakat berbasis Teknologi dan MI atau DMI (yang dikembangkan di Indonesia) adalah dua orang warga negara Singapura Mr. Eric Lim Choo Siang dan Mr. John Choo.

Barang siapa orang berilmu, ia akan dinaikkan sederajat lebih tinggi dari yang lain dan jangan lihat siapa bicara, tetapi lihatlah apa yang dibicarakannya. Dan sungguh Allah menciptakan segala sesuatunya itu tidak ada yang sia-sia dan Allah Maha Kasih dan Penyayang.

Karena itulah ilmu pengetahuan dan teknologi terus menerus akan dikembangkan dan dioptimalkan guna menemukan bakat yang ada pada diri seseorang. Bakat adalah kondisi atau rangkaian karakteristik yang dipandang sebagai gejala kemampuan individu untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan atau serangkaian respon melalui latihan-latihan (Bennet, 1952). Bakat merupakan potensi, sehingga tanpa pengembangan yang berarti (internal dan eksternal) tidak akan menjadi suatu prestasi. Sebaliknya pengembangan yang sangat berarti sekalipun tidak akan optimal kalau diberikan kepada seseorang yang tidak memiliki bakat yang memadai. Keduanya bisa mencapai prestasi optimal bila ada kesesuaian.

PENCARIAN YANG TERARAH. Terkadang suatu usaha untuk mencari benda yang kasat mata saja terasa sulit apalagi mencari sesuatu yang tidak nampak oleh mata. Bakat adalah sesuatu yang tidak begitu saja nampak oleh pencermatan mata kita. Maka ada banyak cara seseorang untuk mengetahui apa sesungguhnya yang menjadi bakatnya itu. Ada yang menggunakan serangkaian tes psikologi. Ada yang melakukan pengamatan langsung terhadap perilaku dalam kesehariannya. Ada yang melalui pencapaian suatu prestasi yang pernah diraihnya. Ada yang melalui jenis golongan darahnya. Ada yang melalui bintang kelahirannya. Dan kali ini adalah melalui sebagian anggota tubuh kita yaitu melalui kesepuluh sidik jari tangan. Dari banyaknya ragam pencarian bakat yang ada selama ini kesemuanya menunjukkan adanya arah dan kemauan yang keras. Tinggal bagaimana kita memilihnya.

DMI salah satu alternatif pencarian bakat yang berbasis teknologi terkini melalui sidik jari seseorang, dimana sidik jari antar orang akan berbeda-beda sebagaimana berbedanya bakat antar sesama kita. Semakin sulit sesuatu itu untuk dicari (termasuk bakat), maka semakin ia membutuhkan bantuan dari banyak pihak, bahkan juga dari banyak cara. Teknologi yang canggih dan keilmuan yang mumpuni. Tidak jarang juga membutuhkan tenaga yang banyak terkadang juga biaya yang relatif sangat tinggi. Tetapi semuanya itu tidak begitu menjadi masalah asalkan ia mendatang sesuatu yang bermanfaat dan dapat menyingkat waktu menjadi cepat !

MEMBACA PETA POTENSI DAN BUKAN MERAMAL. Dengan tes DMI ini, kita akan bisa membaca dengan baik apa sesungguhnya yang menjadi potensi unggulan pada diri kita. Tes DMI bukanlah suatu ramalan, melainkan suatu upaya untuk membaca ”Peta Potensi Diri” kita. Ibarat seseorang akan menuju ke luar kota, dimana orang tersebut belum mengenali dengan baik jalan yang akan dilaluinya, maka akan lebih efektif apabila orang tersebut memiliki peta yang dapat dipercaya akan mengantarkan ia pada suatu tujuan yang akan dicapai.

IKHTIAR DAN BUKAN MEMBERI VONIS. Tes DMI adalah suatu ikhtiar yang berbasis ilmu dan teknologi. Sebagaimana ikhtiarnya kita selama ini tentang penggolongan darah yang ada pada tubuh kita, ada golongan darah A, B dst. Sebagaimana juga datangnya seseorang yang sedang sakit pada seorang dokter. Dia tidak sedang mencari ”kepercayaan lain” selain kepada Tuhannya. Dia juga tidak sedang mencari jaminan bahwa dirinya pasti sembuh. Tetapi sesungguhnya orang yang sakit itu sedang mencari obat dan berikhtiar. Demikian juga sang dokter tidak sedang mendahului maunya sang Maha Pencipta juga tidak sedang memberikan vonis bahwa sang pasien tersebut pastilah sembuh dan atau pastilah akan meninggal dunia. Ikhtiar disemua bidang sangatlah dibutuhkan.

MEMILIH PENDIDIKAN SEMAKIN MANTAP DAN EFEKTIF. Tentu dengan menggunakan jenis tes pengenalan bakat yang diyakini seseorang, maka langkah berikutnya bagi mereka akan lebih mantap dalam menentukan pilihan pendidikannya. Ia tidak akan menoleh ke kanan dan ke kiri lagi. Ia akan lebih fokus, dengan demikian maka ia akan lebih efektif pula dalam menguasai ilmu pilihan yang dipelajarinya itu. Sehingga usia yang kurang dari seratus tahun ini, kelak akan bisa kita lalui dengan sesuatu yang lebih padat, terarah dan berisi, lebih efektif dan lebih produktif dari yang seharusnya bahkan akan lebih dari yang lainnya. Maka tes DMI ini sangat cocok juga untuk anak usia pra sekolah (PAUD), anak usia sekolah dan para mahasiswa.

MEMILIH BIDANG BISNIS / BIDANG PEKERJAAN SEMAKIN MENYENANGKAN DAN PRODUKTIF. Secara tradisional (kalau tidak boleh dikatakan secara primitif) sebenarnya ada beberapa indikator atau parameter seseorang itu melakukan sesuatu sesuai bakatnya atau tidak. Pertama, ia penuh rasa riang gembira ketika melakukan sesuatu. Kedua, ia melakukannya sendiri tanpa harus didorong-dorong oleh pihak manapun. Ketiga, ia tidak mudah putus asa dan tidak mudah jenuh pada kondisi apapun saat melakukan sesuatu itu. Untuk itu ketika seseorang tidak menjumpai ketiga indikator itu pada dirinya, maka sebaiknya ia mencari suatu alternatif untuk mengetahui apa yang sebenarnya menjadi bakat bagi dirinya. Jangan sia-siakan sisa usia yang hanya sesaat itu. Jangan rusakkan karir yang kita miliki hanya karena kita jenuh. Jangan bengkalaikan bisnis yang kita tekuni selama ini hanya karena kita jenuh. Pastikan dimana bakat, potensi dan kemampuan kita yang sebenarnya. Dengan bisa mengetahui bakat yang sebenarnya seseorang akan semakin senang menghadapi bisnis atau pekerjaannya dalam kondisi apapun dengan demikian ia tentu akan lebih produktif dari yang senyatanya.

Oleh : Drs. H. Teguh Sunaryo
Direktur DMI Primagama